Cerita Singkat Tentang Perairan Selat Malaka
![]() |
| www.earth.google.com |
Indonesia memiliki wilayah perairan yang sangat luas dengan
berbagai sumber daya hayati yang sangat potensial. Namun, kekayaan alam yang
sangat potensial itu masih banyak yang belum dimanfaatkan dengan baik. Hal ini
disebabkan karena kurangnya pemahaman tentang pemanfaatan sumber daya alam
tersebut dan letaknya di perairan yang luas sehingga manusia sulit untuk memanfaatkannya
apalagi yang berada pada daerah dasar laut.
Salah satu wilayah perairan Indonesia yang sangat berpotensi akan
sumberdaya hayati adalah perairan Selat Malaka. Selat Malaka merupakan daerah
perairan strategis baik dilihat dari posisi ataupun kandungan sumberdaya hayati
yang dimilikinya. Perairan Selat Malaka ditetapkan sebagai salah satu dari sembilan
wilayah pengelolaan perikanan oleh Direktorat Jenderal Perikanan. Potensi
lestari yang dimiliki selat ini sekitar 0,24 juta ton per tahun dengan tingkat
pemanfaatan sebesar 135%. Jumlah tersebut dapat dikatakan pembludakan, dimana
jumlah pemanfatan yang dilakukan oleh manusia lebih besar daripada proses
pemulihan dari organisme tersebut (Indomedia, 2005).
Selat
Malaka terletak antara pantai Timur Pulau Sumatera, Indonesia dan pantai Barat
Semenanjung Malaysia dan berhubungan serta berakhir pada perairan Selat
Singapura di bagian Tengara. Batasan Selat Malaka adalah ditandai oleh sebuah
garis hayal dari bagian Barat Daya Ujung Baka paling ujung Sumatera
(5°40’Lintang Utara, 95°26’ Bujur Timur) hinga Laem Phra Chaobagian Selatan
paling ujung Pulau Ko Phukit, Thailand (7°45’Lintang Utara, 98°18’Bujur Timur)
dan pada bagian Tengara dari Tahan (Bukit) Datok (1°20’ Lintang Utara, 104°20’
Bujur Timur) dan Tanjung Pergam (1°10’ Lintang Utara, 104°20’ Bujur Timur)
(Hamzah, 197; Shaw, 1973 dalam Chua et al., 200). Pada kawasan tersebut
terdapat beberapa selat kecil, misalnya Selat Bengkalis, Selat Rupat, Selat
Johor, secara bersama selat-selat tersebut menghubungkan perairan Lautan Hindia
(melalui Laut Andaman) ke Laut Cina Selatan dan Lautan Pasifik. Terdapat 14
sungai besar di Sumatera dan 12 sungai utama dari Semenanjung Malaysia
yangmegalir dan memberikan kontribusi terhadap dinamika peraian Selat Malaka.
Perairan Selat
Malaka merupakan bagian dari Paparan Sunda yang relatif dangkal (Atmaja et
al., 2001 dalam Masrikat, 2003), yang berada satu bagian dengan
dataran utama Asia, beberapa laut dan teluk seperti Laut Cina Selatan, Teluk
Thailand, dan Laut Jawa (Masrikat, 2003). Bagian paling sempit dari Selat
Malaka memiliki kedalaman sekitar 30 m dengan lebarnya 35 km, kemudian
kedalaman meningkat secara gradual hingga 100 m sebelum Continental Slope Laut
Andaman. Di dasar selat ini arus pasang surut sangat kuat terjadi dan terbentuk
riak-riakan pasir besar (sand ripples) yang bentuk puncak/ujungnya
searah dengan arus pasut tersebut (Wyrtky, 1961 dalam Masrikat, 2003).
Selat Malaka
merupakan jalur laut terpadat di dunia yang menjadi urat nadi lalu lintas
transportasi minyak bumi. Sebesar 9,4
juta barel minyak bumi yang lewat di Selat Malaka merupakan minyak yang
menghidupi perekonomian dunia (IDSPS, 2008). Di samping itu, Selat Malaka juga
merupakan perairan yang sangat penting dalam menunjang perkembangan perikanan
laut baik di perairan teritorial maupun di perairan ZEE. Perairan ini sangat
subur mengingat banyaknya sungai besar dan kecil yang bermuara serta banyaknya
hutan mangrove di daerah pantainya. Jika dilihat dari sudut geografis, daerah
ini sangat strategis bagi perkembangan komoditas perikanan karena wilayah ini
dibatasi oleh Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Singapura (Sumiono, 2002).



Tidak ada komentar:
Posting Komentar